Hakikat - Harta
Asr399x Sajian-utama
Salah satu maqam (kedudukan/tahapan) yang harus ditempuh para sufi (ahli tasawuf) adalah maqam zuhud. Zuhud adalah sikap untuk tidak mencintai kemewahan duniawi. Di kalangan ulama sufi, ada dua pendapat tentang pengertian zuhud. Pengertian pertama, zuhud berarti berpaling dari hal-hal yang bersifat duniawi dan hanya mengharap hal-hal yang bersifat ukhrawi. Pengertian pertama ini, akhirnya berkembang menjadi sikap membenci segala sesuatu yang bersifat dunia.
Pendapat kedua, zuhud bukan tidak mau memiliki harta, tapi bersihnya jiwa dari pengaruh harta dan kesenangan duniawi. Harta-duniawi boleh dimiliki, tapi hati tidak boleh terpikat. Pengertian kedua ini lebih kuat. Karena Allah Swt dan Rasulullah SAW tidak pernah menyuruh kita ke arah pengertian zuhud yang pertama (membenci dunia secara total). Juga kehidupan Rasulullah dan para sahabat (seperti Abu Bakar As-Siddiq, Umar ibn Khattab, Usman bin Affan,
dan Abdul Rahman bin 'Auf), merupakan orang-orang kaya yang hidup sederhana dan bersahaja.
Rasulullah SAW dan para sahabat tidak hidup bermewah-mewah, tapi tidak membenci kehidupan dunia. Mereka menyadari bahwa manusia tidak dapat memisahkan diri dari kehidupan duniawi, karena manusia masih hidup di dunia, bukan di akhirat. Tapi harta-benda duniawi tidak memalingkan mereka dari pengabdian diri kepada Allah SWT.
Suatu hari, ketika Rasulullah SAW sedang duduk-duduk bersama para sahabat, tiba-tiba tampaklah seorang pemuda bertubuh kekar dan kuat. Ia bekerja dengan penuh semangat. Para sahabat berkata, "Kasihan sekali orang ini, andaikata masa muda dan kekekaran tubuhnya digunakan untuk jihad fi sabilillah, alangkah baiknya".
Mendengar ucapan tersebut, Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah kalian berkata demikian. Sebab, jika dia keluar dari rumahnya (bekerja) guna mengusahakan nafkah untuk anaknya yang masih kecil, maka ia telah berjihad fi sabilillah. Jika ia bekerja untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta, itu pun jihad fi sabilillah. Tetapi apabila ia bekerja karena
ingin pamer harta atau bermegah-megah, maka itu adalah fi sabilisy syaitan (mengikuti jalan setan)." (H.R. Thabrani).
Prinsip inilah yang dijalani para ulama sufi, yang umumnya bekerja sendiri mencari nafkah dengan berbagai profesi. Sebagian di antara mereka dijuluki sesuai bidang usahanya, seperti Al-Qashar (Tukang Penatu), Al Waraq (Tukang Kertas), Al-Kharraz (Penjahit Kulit), Al-Bazzaz (Pengrajin Tikar), Al-Hallaaj (Pembersih Kulit Kapas), Az-Zujaj (Tukang Kaca), Al-Hasri (Pengrajin Tikar), As-Shairafi (Penukar Uang), Al Farra' (Penyamak Kulit), Al-Ghazali (Pengrajin Benang), dll.
Sufi kaya yang dermawan
Di antara ulama sufi tersebut, ada yang kaya dan ada juga yang miskin. Ulama sufi yang kaya selalu istiqamah mengeluarkan zakat, bersedekah kepada fakir-miskin, meringankan beban orang-orang yang menderita (Q.S. Al Ma'arij 70 : 24–25). Contohnya seorang sufi besar bernama Abdullah ibn al-Mubarok.
Beliau adalah ulama sufi yang alim, disegani, kaya, dan sangat dermawan. Jika musim haji tiba, kaum Muslimin di daerah Marwa (tempat tinggal Abdullah ibn al-Mubarok) datang menemuinya seraya menyatakan keinginan berhaji. Mendengar hal itu, Abdullah ibn Al-Mubarok berkata, "Serahkan semua uang yang kalian siapkan untuk biaya haji kepadaku."
Mereka pun menyerahkan semua uangnya kepada Abdullah ibn Al-Mubarok. Uang itu dimasukkan ke dalam peti-kotak, lalu dikunci. Selanjutnya, Abdullah ibn Al-Mubarok menyewa kendaraan untuk membawa rombongan menuju Tanah Suci.
Selama di perjalanan, Abdullah ibn Al-Mubarok menanggung semua biaya makan dan minum semua anggota rombongan. Padahal perjalanan tersebut membutuhkan waktu hampir 2 minggu.
Setibanya di kota Madinah, setiap jamaah ditanya oleh Abdullah ibn Al-Mubarok, "Apa yang dipesan oleh keluargamu untuk dibeli di kota Madinah?". Kemudian masing-masing jamaah menyebutkan sesuai pesanan keluarganya. Lalu Abdullah ibn Al-Mubarok berbelanja memenuhi semua pesanan tersebut.
Ketika berada di kota Makkah dan setelah para jamaah selesai menunaikan ibadah haji, lagi-lagi Abdullah ibn Al-Mubarok berkata, "Apa yang dipesan keluargamu untuk dibeli di kota Makkah?" Masing-masing jamaah menyebutkan pesanan keluarganya. Dan sekali lagi Abdullah ibn Al-Mubarok berbelanja memenuhi semua pesanan tersebut.
Dalam perjalanan pulang, lagi-lagi Abdullah ibn Al-Mubarok menanggung semua kebutuhan makan dan minum para jamaah. Dan ketika tiba di Marwa, ternyata rumah-rumah para jamaah sudah direnovasi dan dihiasi dengan hiasan yang indah. Rumah yang tidak layak diperbaiki. Rumah yang layak dihiasi. Semua biayanya ditanggung oleh Abdullah ibn Al-Mubarok.
Tidak cukup sampai di situ. Tiga hari kemudian, Abdullah ibn Al-Mubarok mengundang para jamaah untuk makan bersama dan memberi pakaian kepada mereka. Setelah selesai makan, Abdullah ibn Al-Mubarok mengambil kotak tempat penyimpanan uang, untuk dikembalikan kepada pemiliknya masing-masing. Setiap kotak uang telah ditulisi nama pemiliknya. Abdullah ibn Mubarok tidak memungut satu senpun biaya perjalanan haji para jamaahnya.
Allahu akbar! Sungguh suatu teladan yang sangat mulia dan indah.
Hakikat dunia
Suatu hari, Syeikh As-Sakandari bercerita kepada muridnya tentang temannya yang tinggal di Maroko. Menurut Syeikh As-Sakandari, temannya itu hidup zuhud dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. “Kalau kamu sampai di tempat kawanku, mintalah do'a kepadanya, karena dia adalah wali Allah,” pesan beliau kepada muridnya.
Sang murid pun pergi ke Maroko. Ketika tiba di sana, betapa kagetnya sang murid. Karena rumah teman gurunya itu sangat besar dan mewah, seperti rumah para raja. Ketika itu, tuan rumahnya sedang bepergian. Dan setelah lama menunggu, akhirnya si tuan rumah pulang dengan menunggang kuda yang sangat mahal dan berpakaian yang serba mewah.
Melihat keadaan ini, hampir saja si murid pulang dan membatalkan niatnya untuk sowan (nyabis). Tapi terpikir olehnya, tidak baik melanggar perintah guru. Akhirnya dia memutuskan menemui guru sufi itu.
Dan ketika diizinkan masuk, dia semakin heran melihat banyaknya pelayan yang berpakaian serba indah. Setelah berbicara panjang lebar dan meminta doa, tuan rumah berpesan kepada si murid: "Jika kamu kembali kepada saudaraku (maksudnya Syeikh Ibnu Atha'illah as-Sakandari), katakan kepadanya, ‘Sampai kapan kesibukanmu kepada dunia akan berakhir?".
Astaga! Si murid semakin heran mendengar pesan sufi kaya itu. Di dalam hatinya, dia bergumam: "Bukankah dia yang kaya-raya, sedangkan gurunya sangat miskin? Bagaimana mungkin orang miskin sibuk memikirkan dunia? Bukankah dia yang seharusnya diingatkan agar jangan sibuk memikirkan dunia?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus menggelayuti pikiran sang murid. Dia sebenarnya tidak ingin menyampaikan pesan itu kepada gurunya. Tapi karena pesan tersebut merupakan amanah, maka ia pun harus menyampaikan.
Akhirnya, setibanya di kampung halaman, dengan sangat terpaksa si murid menemui Syeikh as-Sakandari. Dia menceritakan semua pengalamannya selama di perjalanan. Dan, ketika tiba saatnya untuk menyampaikan pesan tersebut, mulutnya seakan terkunci. Lidahnya terasa kaku dan kelu. "Beliau berpesan.....," kata si murid, ragu-ragu. "Beliau berpesan.....‘sampai kapan kesibukanmu kepada dunia akan berakhir?”
Mendengar pesan tersebut, Syeikh as-Sakandari langsung menangis tersedu-sedu.
Si murid pun semakin heran. Dia hanya bisa melongo melihat sang guru terisak-isak.
Setelah tangisnya reda, Syeikh as-Sakandari berkata, “Sungguh benar ucapannya. Allah telah membersihkan hatinya dari harta duniawi. Dunia hanya berada di tangannya, bukan di hatinya. Sedangkan aku hanya memegang sedikit dunia di tanganku, tapi aku sering memikirkannya.” (Sipe)