Media Dakwah

BUMIAswaja

Media Dakwah MWCNU Pragaan

Meraih Barokah - bersama Anak Yatim

Jumat, 25 Desember 2015 12:54 WIB
409x Sajian-utama

Sebuah Kisah Nyata1

Sudah 7 tahun saya merantau dari sebuah desa kecil di Sumatera ke Jakarta. Tujuannya hanya satu, mencoba peruntungan. Siapa tahu, Jakarta yang hanya saya dengar di televisi bisa merubah garis hidup saya.

Salah satu andalan saya di kota paling besar di Negeri ini adalah berjualan kecil-kecilan. Ya, saya memutuskan berjualan makanan Nasi Padang, khas kampung saya. Saya menetapkan tinggal di Jakarta Timur, dengan menyewa sebuah tempat kecil. Ahamdulillah, meski kecil, warung saya tidak sepi. Setidaknya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tentu, agar irit, semua saya lakukan sendiri. Mulai belanja, masak, dan menunggu warung.

Suatu hari, di sebelah warung yang saya tempati ada musibah. Seorang bapak meninggal dunia dengan meninggalkan 6 orang anaknya yang masih kecil dan seorang istri. Saya memperhatikan kehidupannya pasca kematian suaminya benar-benar


memprihatinkan. Entah, apa yang menggerakkan hati saya, kala itu saya ingin membantu. Namun, karena kondisi saya yang terbatas, saya hanya mampu memberi makan mereka secara gratis. Itupun sekali dalam seminggu.

Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, semua itu saya kerjakan tanpa tahu makna dari itu. Boro-boro hadits Nabi tentang anak yatim, shalat saja masih bolong-bolong. Maklum, ketika datang dari desa, saya tak begitu mengenal makna hidup.

Tidak terasa, anak-anak yatim yang saya santuni ternyata terus berkembang. Dari 6 orang jadi 9 orang. Dan dari 9 orang, kini telah mencapai 150 orang. Subhanallah. Kalau bukan karena Allah Swt, tidak mungkin bisa menggerakkan anak-anak yatim datang ke warung saya. Setiap hari Jumat, mereka datang ke warung untuk makan bersama dan pulangnya saya beri amplop sekedarnya.

Sering ada pertanyaan dari banyak orang, apakah dengan mengundang anak-anak yatim itu makan, tidak menjadikan warung saya rugi? Entahlah, tapi faktanya justru terbalik. Semenjak kedatangan mereka ke warung saya, rezeki yang datang menghampiri saya tidak pernah ada habisnya.


Betapa tidak. Dahulu saya hanya menyewa warung kecil. Kini tanah dan bangunan itu sudah saya beli. Tidak itu saja, saya bisa membeli rumah di Jakarta, menambah beberapa warung cabang untuk memperlebar usaha. Bahkan ditambah dengan karyawan yang semakin banyak.  Istri, anak, dan keluarga saya semuanya bisa ikut ke Jakarta.

Satu lagi yang menambah keyakinan saya bahwa Allah telah memberi berkah melalui anak yatim adalah, saya sekeluarga bersama para karyawan bisa tidur nyenyak selama bulan Ramadhan. Bayangkan saja, para pengusaha makanan, umumnya, akan goncang jika bulan Ramadhan datang. Karena selama seharian penuh mereka akan libur total, sejak Subuh hingga Ashar, dan otomatis tidak ada pemasukan. Masalahnya, jika semua kalkulasi-kalkulasi itu menggunakan akal dan logika manusia, maka Allah juga akan menggunakan kalkulasi dan logika manusia. Bukankah ada sebuah hadits mengatakan, sesungguhnya prasangka Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya (manusia).

Jika kehadiran Ramadhan kita yakini akan membuat usaha kita rugi dan bangkrut, 


boleh jadi Allah juga akan memberi kebangkrutan pada kita. Sebaliknya, jika kita ber-husnudzon (berbaik sangka) kepada Allah, bahwa hadirnya Ramadhan tak akan pernah membangkrutkan usaha kita, boleh jadi pula Allah akan memberi kita rizki dari pintu yang lain.

Dan itulah kenyataannya. Selama Ramadhan, saya dan seluruh karyawan justru bisa libur penuh dan sibuk beribadah. Bagaimana dengan karyawan, anak dan istri, bahkan uang untuk THR dan urusan mudik? Ternyata Allah telah melipatgandakan rizki saya sebulan sebelum datangnya bulan mulia itu. Berarti saya tinggal menghitung uang untuk bekal Idul Fitri.

Entahlah, semua ini, boleh jadi karena berkah dari anak-anak Yatim. Saya hanya bisa bersyukur, karena Allah tidak pernah bosan-bosan menolong hamba-Nya yang lemah ini.

Saya ingat sebuah surat dalam al-Quran yang mengatakan: Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak. [QS. Al-Hadid: 11]

Jika pengalaman saya ini bisa diambil pelajaran, saya hanya ingin mengatakan satu hal: Jangan pernah "perhitungan" dengan Allah Swt, karena Allah tidak pernah "perhitungan" dengan rizki kita. ()

1 dikutip dari hidayatullah.com

Banyak Perhitungan

Suatu hari, seorang laki-laki miskin mendatangi Aisyah istri Rasulullah Saw, Aisyah pun memberinya sedekah. Lalu Aisyah memanggil pembantunya Barirah dan menyuruh memperhatikan dan menyelidiki laki-laki itu; apa benar laki-laki itu miskin atau pura-pura miskin, lalu dipakai untuk apa sedekah tadi.

Melihat kejadian tersebut, Rasulullah SAW menegur Aisyah: “Jangan kau berhitung-hitung dalam bersedekah, karena Allah tidak pernah menghitung-hitung dalam memberikan rizki kepada kita.”

  • Senin, 28 Desember 2015 09:55 WIB Hakikat - Harta

    Salah satu maqam (kedudukan/tahapan) yang harus ditempuh para sufi (ahli tasawuf) adalah maqam zuhud. Zuhud adalah sikap untuk tidak mencintai kemewahan duniawi. Di kalangan ulama sufi, ada dua pendapat tentang pengertian zuhud. Pengertian pertama, zuhud berarti berpaling dari hal-hal yang bersifat duniawi dan

  • Jumat, 25 Desember 2015 12:54 WIB Meraih Barokah - bersama Anak Yatim

    Sebuah Kisah Nyata1 Sudah 7 tahun saya merantau dari sebuah desa kecil di Sumatera ke Jakarta. Tujuannya hanya satu, mencoba peruntungan. Siapa tahu, Jakarta yang hanya saya dengar di televisi bisa merubah garis hidup saya. Salah satu andalan saya di kota paling besar di Negeri ini adalah berjualan

  • Jumat, 4 September 2015 08:19 WIB Paradoks - Sosial

    Ada banyak paradoks dalam kehidupan sosial kita. Banyak sekali umat Islam yang sering berangkat umroh, sementara tetangganya terpaksa tidur di emperan toko karena tidak punya rumah. Ada juga yang jidatnya menghitam karena banyak sujud, sementara tetangganya tergolek lemah digerogoti penyakit dan tak mampu beli

  • Jumat, 4 September 2015 08:16 WIB Miskin dan - Kaya

    Mayoritas manusia menganggap kemiskinan (materi) sebagai musuh. Coba kita beranya kepada orang lain, “Apakah Anda mau jadi orang miskin” Atau, Maukah Anda didoakan miskin” Pasti dia tidak akan mau. Karena, dalam psikologi-sosial, miskin itu identik dengan kerendahan, kehinaan, inferioritas,

Memuat Data...

Siapkan Identitas
Khusus Warga Kecamatan Pragaan