Media Dakwah

BUMIAswaja

Media Dakwah MWCNU Pragaan

Meneladani Kedermawanan - Nabi dan Shahabat

Jumat, 25 Desember 2015 10:55 WIB
537x Sajian-utama

“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah”

 

Kesuksesan dakwah Rasulullah SAW sangat dipengaruhi oleh bimbingan langsung dari Allah SWT. Ini fakta yang disepakati semua ulama. Namun, ada fakta lain yang jarang kita pikirkan. Keberhasilan dakwah Kanjeng Nabi juga ditopang oleh terpenuhinya kebutuhan finansial.

Ya, di belakang Rasulullah SAW, terdapat banyak sahabat kaya dan dermawan yang menjadi pendukung utama dakwah beliau. Bahkan, dari 10 orang sahabat yang dijamin masuk surga, 8 di antaranya adalah saudagar kaya-raya. Hanya 2 sahabat, yakni Ali bin Abi Thalib dan Abu Ubaidah, yang dijamin masuk surga tapi tidak memiliki kekayaan berlimpah.

 

Kedermawanan Nabi SAW

Rasulullah adalah Nabi dan Rasul yang sangat dermawan. Saking dermawannya, beliau tidak pernah memegang uang dalam waktu lama, dan seluruh kekayaannya disumbangkan untuk dakwah Islam.  


Bahkan sejak berusia 19 tahun, Rasulullah SAW sudah mendirikan lembaga sosial bernama "Baitul Fudlul". Melalui lembaga ini, Rasul selalu berusaha memerdekakan para budak dan menyantuni yatim-piatu serta kaum dhuafa'. Juga membantu biaya para musafir yang kehabisan bekal.

Dari mana beliau memperoleh dana? Tentu dari kantong pribadi beliau, ditambah sumbangan dari beberapa dermawan.

Rasulullah SAW adalah satu-satunya Nabi yang menjadi pengusaha kaya sebelum diangkat menjadi Rasul. Beliau memulai usaha pada usia 7 tahun (sebagai pengembala dan pedagang ternak). Lalu pada usia 12 tahun membantu bisnis pamannya, Abu Thalib, melakukan ekspor-impor antar Negara seperti ke Irak, Yordania, Bahrain, Suriah, Yaman (business expertise). Kemudian memasuki usia 17 hingga 20 tahun, Nabi SAW menjadi direktur perusahaan milik Abu Thalib. Dan, sejak umur 21 tahun, Nabi berkongsi dagang dengan Siti Khadijah dengan pola kerjasama bagi hasil (profit sharing/mudharabah).

Setelah menikah, Rasulullah SAW membangun perusahaan melalui mekanisme partnership (perkongsian/musyarakah) bersama para pengusaha lainnya. Puncaknya, pada usia 37 tahun, Nabi Muhammad SAW menjadi investor dan pemegang saham beberapa perusahaan, sehingga beliau mendapat keuntungan tanpa harus bekerja (passif income). 


Nabi bisa uzlah (menyepi) di Gua Hira’ dengan tenang, karena kebutuhan hidup keluarganya sudah tercukupi.

Meskipun bergelimang harta, pola hidup Nabi SAW tetap sederhana. Saking sederhananya, pernah selama 40 malam tidak ada api yang menyala di rumah beliau (berarti beliau tidak masak nasi); beliau hanya mengkonsumsi kurma dan air. Beliau juga rajin puasa; tidak makan jika belum lapar, berhenti makan sebelum kenyang, mengganti pakaian dan perabot kalau sudah rusak.

Sepulang dari Perang Badar, Nabi pernah diberi uang 90 ribu dirham (setara 6 M). Nabi SAW membiarkan uang itu tergeletak di sudut masjid. Dan setelah shalat, beliau membagi-bagikan seluruh uang tersebut kepada para shahabat. Beliau tidak berdiri sebelum uang habis dibagikan.

Seorang tamu pernah menemui Nabi SAW saat beliau mengembala. Saat si tamu meminta sumbangan, Nabi memberikan semua hewan piaraannya tanpa tersisa satu ekorpun. Kemudian sebelum wafat, seluruh kekayaan Nabi disedekahkan untuk perjuangan Islam.

Dengan pola hidup zuhud seperti ini, Nabi hendak mengajarkan kepada kita agar hidup sederhana dan bersahaja. Kekayaan bukan tujuan. Ia hanya sarana untuk mencapai tujuan. Dan tujuan tertinggi adalah mengalokasikan kekayaan di jalan Allah Swt. Teladan hidup seperti inilah yang kelak diikuti oleh shahabat, tabiin, dan ulama.

 

Kedermawanan Para Sahabat

1. Abu Bakar ra.

Saat membebaskan Bilal ra. dari perbudakan Umaiyah bin Khalaf, Sayyidina Abu Bakar


mambayar 9 uqiyah emas. Ukuran 1 uqiyah itu setara dengan 31,7475 gram emas, atau sekitar 7,4 dinar. Jika harga 1 dinar emas adalah Rp. 2.370.000, berarti dana total yang dikeluarkan Abu Bakar ra. adalah Rp. 157.842.000,-Uang sebesar itu hanya untuk biaya pembebasan Bilal. Padahal, Abu Bakar juga mengeluarkan dana 40.000 dirham untuk memerdekakan budak-budak lain. Nah, jika 1 dirham setara dengan Rp. 67.500, berarti beliau menghabiskan dana sekitar Rp. 2,7 Miliar!

Kemudian, saat hijrah menemani Nabi Saw, Abu Bakar membawa bekal 5000 –6000 dirham atau sekitar Rp. 1 miliar (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Jilid 1 Hal. 442). Yang lebih fantastik, Abu Bakar dua kali berinfaq dengan 100% kekayaannya, salah satunya saat Perang Tabuk. Dalam hadis riwayat at-Turmudzi, infaq Sayyidina Abu Bakar tersebut mengalahkan infaq Sayyidina Umar bin Khattab. Lalu berapa jumlah infaq Sayyidina Umar?

2. Umar bin Khattab

Dalam Perang Tabuk, Sayyidina Umar berinfaq dengan sebagian besar kekayaannya. Tapi di dalam kitab-kitab sejarah tidak dijelaskan berapa jumlah totalnya. Oleh karena itu, kita perlu menghitung kekayaan beliau sebagai bahan perbandingan.

Di dalam Kitab Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih karangan Ibnu Abdil Barr disebutkan, Sayyidina Umar mewariskan 70.000 ladang pertanian untuk keluarganya. Setiap tahunnya, ladang tersebut rata-rata menghasilkan Rp 40 juta. Dengan begitu, Sayyidina Umar mendapatkan penghasilan total Rp. 233 Miliar per bulan. 

Dan, seandainya seluruh ladang tersebut dijual dengan harga rata-rata Rp 160 juta, maka total harta peninggalan Sayyidina Umar ra. adalah Rp 11 triliun! Suatu jumlah yang sangat fantastis, karena Sayyidina Umar terkenal sangat miskin dan hidupnya sangat sederhana.

Dari sini, silakan Anda perkirakan sendiri berapa besar kekayaan Sayyidina Abu Bakar yang


menyedekahkan seluruh hartanya sehingga “mengalahkan” infaq Sayyidina Umar saat Perang Tabuk.

Tapi perlu dicatat! Meskipun sangat kaya, Sayyidina Umar senantiasa hidup sederhana. Tidur hanya beralaskan tikar, berbantal kayu dan batu, tak pernah makan kenyang demi menjaga perasaan rakyatnya. Menolak menerima gaji dan menyerahkan seluruh gajinya untuk kepentingan rakyat. Bahkan beliau juga mewariskan 40 ribu dinar untuk diberikan kepada umat. Uang 40 ribu dinar tersebut setara dengan Rp.284,4 miliar.

3. Utsman bin Affan

Beliau memang terkenal kaya. Sayyidina Utsman pernah menanggung biaya perang (Badar?) sebesar 50 persen dan berinisiatif memperluas Masjid Nabawi, termasuk membiayai pembebasan lahan di sekitarnya.

Sayyidina Utsman juga pernah membeli sumur yang jernih airnya dari seorang Yahudi seharga 200.000 dirham, setara dengan harga emas dua setengah kilogram atau uang Rp.12 miliar. Sumur itu diwakafkan untuk kepentingan rakyat. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Sayyidina Utsman pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1.000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering.

Saat Perang Tabuk, Khalifah Utsman menanggung biaya logistik 1/3 pasukan (10 ribu orang), juga memberikan 300 ekor unta, 70 ekor kuda, dan 1.000 dinar uang cash. Totalnya sekitar Rp300 Miliar. Sekedar diketahui, Perang Tabuk membutuhkan biaya besar karena terjadi pada musim kemarau, medannya sulit, dan pihak lawan sangat kuat. Perang Tabuk membutuhkan donatur untuk 30 ribu pasukan Muslim.

4. Abdurrahman bin Auf

Dalam Perang Tabuk, shahabat Abdurrahman bin Auf menyumbang 200 uqiyah emas


yang setara dengan Rp9,5 miliar. Beliau juga menyumbang biaya ekspedisi pasukan sebanyak 4.000 dinar atau setara dengan 1,7 kg emas (senilai Rp.3,4 miliar). Padahal, waktu itu Abdurrahman bin Auf “belum terlalu kaya”.

Dalam perang Badar, beliau menyumbang 500 ekor kuda dan 700 ekor unta penuh muatan, juga bersedekah uang 400 dinar kepada setiap Muslim yang ikut perang Badar dan masih hidup.

Shahabat Abdurrahman bin Auf pernah menjual tanah seharga 40.000 dinar (Rp 7 miliar) dan uangnya dibagi-bagikan kepada familinya dari Bani Zuhrah, juga kepada para janda Nabi SAW, serta kepada fakir-miskin. Dan, menjelang wafat, beliau berwasiat 50.000 dinar (sekitar Rp 9 miliar) untuk perjuangan di jalan Allah.

5. Sahabat lainnya

Selain 4 sahabat di atas, terdapat 4 sahabat lain yang dijamin masuk surga dan terkenal kaya-raya. Yakni Said bin Zaid, Sa'ad bin Abi Waqqash, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah. Thalhah, misalnya, beliau pernah bersedekah piring-piring yang dipenuhi uang kepada para sahabat Muhajirin dan Anshar. Beliau juga pernah bersedekah nampan besar yang dipenuhi uang.

Abdullah ibn Umar ra, putra Umar ibn Khattab, pernah menjual tanah seharga 200 ekor unta, di mana separuhnya digunakan untuk menanggung biaya pasukan Muslim. Jika satu ekor unta senilai 4.000 riyal dan 1 riyal setara dengan Rp2.500, maka total sumbangannya adalah Rp1 miliar. Kemudian sahabat Hakim bin Hizam pernah bersedekah 100 unta (setara dengan Rp1 miliar). Dan terakhir shahabat Ashim Bin Adi, dalam Perang Tabuk beliau menyumbang 90 wasaq kurma (180 kg/wasaq x Rp300 ribu = Rp4,8 Milyar). 

Melihat fakta-fakta di atas, kita sadar bahwa pengorbanan kita untuk perjuangan Islam belum seberapa dibandingkan pengorbanan Kanjeng Nabi SAW dan para shahabat. (Sipe)

  • Senin, 28 Desember 2015 09:55 WIB Hakikat - Harta

    Salah satu maqam (kedudukan/tahapan) yang harus ditempuh para sufi (ahli tasawuf) adalah maqam zuhud. Zuhud adalah sikap untuk tidak mencintai kemewahan duniawi. Di kalangan ulama sufi, ada dua pendapat tentang pengertian zuhud. Pengertian pertama, zuhud berarti berpaling dari hal-hal yang bersifat duniawi dan

  • Jumat, 25 Desember 2015 12:54 WIB Meraih Barokah - bersama Anak Yatim

    Sebuah Kisah Nyata1 Sudah 7 tahun saya merantau dari sebuah desa kecil di Sumatera ke Jakarta. Tujuannya hanya satu, mencoba peruntungan. Siapa tahu, Jakarta yang hanya saya dengar di televisi bisa merubah garis hidup saya. Salah satu andalan saya di kota paling besar di Negeri ini adalah berjualan

  • Jumat, 4 September 2015 08:19 WIB Paradoks - Sosial

    Ada banyak paradoks dalam kehidupan sosial kita. Banyak sekali umat Islam yang sering berangkat umroh, sementara tetangganya terpaksa tidur di emperan toko karena tidak punya rumah. Ada juga yang jidatnya menghitam karena banyak sujud, sementara tetangganya tergolek lemah digerogoti penyakit dan tak mampu beli

  • Jumat, 4 September 2015 08:16 WIB Miskin dan - Kaya

    Mayoritas manusia menganggap kemiskinan (materi) sebagai musuh. Coba kita beranya kepada orang lain, “Apakah Anda mau jadi orang miskin” Atau, Maukah Anda didoakan miskin” Pasti dia tidak akan mau. Karena, dalam psikologi-sosial, miskin itu identik dengan kerendahan, kehinaan, inferioritas,

Memuat Data...

Siapkan Identitas
Khusus Warga Kecamatan Pragaan