Prenduan, NU Online Pragaan

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, KH Md. Widadi Rohim, menegaskan bahwa santri harus memiliki karakter religius sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Menurutnya, kedua karakter tersebut menjadi bekal penting bagi santri dalam menghadapi berbagai perubahan kehidupan.

Hal itu disampaikannya saat memberikan sambutan dalam Istighatsah Resepsi Puncak Festival Santri Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan di Lapangan Arrahman, Prenduan, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan tersebut sekaligus menjadi penutup seluruh rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di lingkungan MWCNU Pragaan.

Dalam sambutannya, Kiai Widadi menjelaskan bahwa santri harus memiliki landasan keagamaan yang kuat, yang tercermin dalam keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Namun, religiositas tersebut perlu berjalan beriringan dengan kemampuan menyesuaikan diri terhadap perkembangan zaman.

“Secara definisi, santri itu harus religius, mempunyai agama yang kokoh yaitu dengan didasari oleh iman dan takwa kepada Allah. Tapi juga harus adaptif dengan segala macam keadaan,” terang kiai yang pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Al-Muqri Prenduan tersebut.

Selain menyampaikan pesan tentang karakter santri, Kiai Widadi juga mengapresiasi rangkaian kegiatan yang diselenggarakan MWCNU Pragaan dalam memeriahkan HSN 2026. Ia mengaku bangga melihat semangat dan produktivitas MWCNU Pragaan dalam menggelar berbagai kegiatan.

“Dari sekian banyak event Hari Santri yang saya datangi, yang paling padat kegiatannya adalah di MWCNU Pragaan. Ini sungguh luar biasa. Entah dari mana dananya saya tidak tahu. Karena sampai sekarang belum ada proposal masuk ke saya,” ucapnya sembari berkelakar.

Peringatan HSN 2026 yang diselenggarakan MWCNU Pragaan memang diisi dengan beragam kegiatan. Sejumlah agenda tersebut meliputi Kemah Santri, Lomba Cerdas Cermat, Nasyid Islami, Baca Puisi, Lomba Batu Akik Anti Tembak, Turnamen Mobile Legends, Expo Santri, serta Jalan-Jalan Sehat.

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung sejak awal Oktober 2026 dan mencapai puncaknya pada Sabtu (31/10/2026) melalui Istighatsah Resepsi Puncak Festival Santri. Penyelenggaraan berbagai agenda tersebut menjadi bagian dari upaya MWCNU Pragaan dalam menyemarakkan HSN sekaligus menghadirkan ruang partisipasi bagi santri dan masyarakat.

Karduluk, NU Online Pragaan

Suasana khidmat menyelimuti malam ketujuh tahlil dan doa bersama untuk almarhum H. Zainul Ihsan, yang juga dikenal dengan nama H. Eksan, Ketua Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Karduluk sekaligus anggota DPRD Kabupaten Sumenep. Lebih dari seribu jamaah hadir untuk mendoakan almarhum, mulai dari para masyayikh, warga setempat, hingga teman dan sahabat yang datang untuk menyampaikan penghormatan terakhir.

Berdasarkan keterangan pihak keluarga, jumlah jamaah yang hadir pada malam ketujuh tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 1.000 orang. Kehadiran mereka menjadi gambaran besarnya ikatan sosial dan kedekatan almarhum dengan masyarakat, khususnya warga Desa Karduluk dan lingkungan Nahdlatul Ulama.

Sejumlah masyayikh turut hadir dalam kegiatan tersebut. Warga, kerabat, teman, dan sahabat almarhum juga memadati lokasi untuk mengikuti rangkaian tahlil dan doa bersama. Lantunan kalimat-kalimat tahlil menggema, mengiringi doa agar almarhum memperoleh ampunan, rahmat, serta tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Bagi masyarakat, H. Zainul Ihsan bukan sekadar sosok yang dikenal sebagai anggota DPRD Kabupaten Sumenep. Amanahnya sebagai Ketua Ranting NU Karduluk juga menempatkannya dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat setempat.

Kehadiran para masyayikh dan ratusan hingga ribuan jamaah pada malam ketujuh tersebut memperlihatkan bahwa doa bersama masih menjadi ruang penting untuk mempererat silaturahmi, menguatkan ikatan persaudaraan, sekaligus mengenang sosok yang telah berpulang.

Kepala Desa Karduluk, yang merupakan menantu almarhum, turut berada dalam lingkaran keluarga yang ditinggalkan. Di tengah suasana duka, dukungan dan kehadiran masyarakat menjadi penguat bagi keluarga untuk melewati masa kehilangan.

Malam ketujuh tahlil ini bukan hanya menjadi momentum untuk mendoakan almarhum, tetapi juga menjadi pertemuan keluarga besar, masyarakat, serta sahabat yang pernah berjalan bersama almarhum dalam kehidupan sosial, kemasyarakatan, dan keagamaan.

Di antara lantunan tahlil dan doa yang dipanjatkan, tersimpan harapan agar segala amal baik almarhum diterima oleh Allah SWT, segala khilafnya diampuni, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Semoga almarhum H. Zainul Ihsan (H. Eksan) mendapat magfirah dan rahmat Allah SWT, dilapangkan kuburnya, serta ditempatkan di sisi-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Amin.

Jaddung, NU Online Pragaan

Lembaga Konsultasi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (LKP3A) Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Pragaan menggelar Road Show Parenting Education di Aula RA Ar-Rahmah Jaddung, Rabu (21/10/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman orang tua tentang pentingnya pola asuh yang tepat bagi anak pada masa keemasan tumbuh kembang (golden age).

Mengusung tema “Optimalisasi Golden Age: Peran Asah, Asih, Asuh dalam Periode Emas Tumbuh Kembang Anak”, kegiatan tersebut diikuti sekitar 160 peserta yang terdiri atas wali murid serta pengurus PAC Fatayat NU Pragaan dan LKP3A.

Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026. Psikolog asal Sumenep yang juga merupakan pengurus Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Sumenep, Neng Hielma Hasanah, hadir sebagai narasumber.

Ketua PAC Fatayat NU Pragaan, Nyai Fifi Shofiyati Afifiyah, menyampaikan bahwa pendidikan pengasuhan anak sangat penting bagi para ibu, terutama yang memiliki anak berusia 0–6 tahun. Menurutnya, kelompok usia tersebut merupakan sasaran yang tepat untuk mendapatkan edukasi mengenai pola asuh karena berada dalam periode emas pertumbuhan dan perkembangan.

“Acara parenting education ini sangat penting untuk dilaksanakan dan diikuti oleh ibu-ibu yang anaknya masih berusia 0–6 tahun. Jadi, sangat tepat jika target peserta kegiatan ini adalah wali murid RA, karena anak-anak mereka masih berada pada usia golden age,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada kepala RA, pengasuh, dan seluruh dewan guru RA Ar-Rahmah yang telah menerima kehadiran PAC Fatayat NU Pragaan dengan terbuka sehingga kegiatan dapat berlangsung dengan baik.

Sementara itu, Kepala RA Ar-Rahmah Jaddung, Kiai Rofi’e Basyir, mengapresiasi PAC Fatayat NU Pragaan yang telah memilih lembaganya sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan. Ia menilai pendidikan pengasuhan anak merupakan hal penting yang perlu mendapat perhatian para orang tua.

“Kami berharap para wali murid benar-benar serius menyimak dan mengikuti materi parenting dengan baik sehingga dapat menjadi bekal dalam mengasuh anak-anak mereka di rumah,” tuturnya.

Masa Golden Age Membutuhkan Pengasuhan Penuh Kasih Sayang

Dalam pemaparannya, Neng Hielma Hasanah menjelaskan bahwa anak berusia 0–6 tahun berada dalam fase penting yang membutuhkan perhatian dan kehati-hatian dalam pengasuhan. Pada masa ini, anak cenderung mudah meniru perilaku, menangkap berbagai hal yang terjadi di sekitarnya, serta merespons emosi dan suasana lingkungan.

Ia mengingatkan bahwa bentakan dan perlakuan keras dapat meninggalkan dampak terhadap perkembangan emosional anak. Karena itu, orang tua perlu membangun pola asuh yang mengedepankan kasih sayang, kebaikan, dan rasa aman.

“Anak di usia 0–6 tahun adalah masa keemasan yang perlu kehati-hatian dalam mendidik. Pada masa itu, anak mudah meniru, mudah menangkap, dan mudah terpengaruh oleh emosi dari apa yang terjadi di sekitarnya,” jelasnya.

Untuk menggambarkan pentingnya menjaga perasaan anak, Neng Hielma mengibaratkan perkembangan otak anak seperti pohon yang memiliki daun. Menurutnya, bentakan dapat diibaratkan sebagai tindakan yang merusak daun tersebut. Karena itu, orang tua perlu terus menumbuhkan pengalaman positif melalui pengasuhan yang penuh kasih sayang.

“Untuk menutupinya, kita harus lebih banyak menumbuhkan daun-daun baru, yaitu dengan pola asuh yang penuh kasih sayang, cinta, dan kebaikan. Dengan begitu, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan merasa aman,” ungkapnya.

Ia berharap materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut dapat menjadi acuan bagi para orang tua dalam menjalankan pengasuhan sehari-hari di rumah.

“Semoga apa yang kita pelajari sekarang menjadi acuan dalam pengasuhan yang kita lakukan sehari-hari di rumah,” pungkasnya.

Pragaan, NU Online Pragaan

Lomba Cerdas Cermat dinilai memiliki peran penting dalam mendorong semangat belajar dan budaya membaca di kalangan pelajar. Karena itu, pendamping lomba cerdas cermat Erfan Maulidi Wibowo dari SMK Al-Fudhola, Pamekasan, mengusulkan agar kegiatan tersebut rutin diselenggarakan setiap momentum Hari Santri Nasional (HSN) dan Hari Lahir Nahdlatul Ulama (Harlah NU).

Usulan tersebut disampaikan dalam Lomba Cerdas Cermat se-Madura yang diselenggarakan oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026.

Menurutnya, Lomba Cerdas Cermat bukan sekadar ajang kompetisi untuk memperebutkan juara, melainkan juga sarana untuk memotivasi siswa agar membaca, menghafal, memahami, dan menguasai materi pembelajaran.

Ia menilai, tanpa adanya perlombaan, belum tentu siswa memiliki dorongan yang kuat untuk membaca dan belajar secara serius. Adanya kompetisi dapat menjadi pemicu bagi mereka untuk mempersiapkan diri dengan mempelajari materi yang akan dilombakan.

Dalam satu regu yang terdiri atas tiga siswa, setidaknya ada tiga anak yang terdorong untuk belajar dan memahami materi. Dampak inilah yang dinilai penting dari penyelenggaraan Lomba Cerdas Cermat.

Selain mengusulkan agar kegiatan digelar setiap momentum HSN dan Harlah NU, ia juga berharap jumlah regu peserta tidak dibatasi hanya dua regu atau jumlah tertentu. Setiap lembaga pendidikan sebaiknya diberi kebebasan mengirimkan regu sebanyak mungkin sesuai kemampuan dan kesiapan masing-masing.

Dengan demikian, kesempatan untuk belajar dan berkompetisi dapat menjangkau lebih banyak siswa dari berbagai lembaga pendidikan di Madura.

Pelaksanaan secara rutin setiap HSN dan Harlah NU juga diharapkan menjadi tradisi positif yang menghubungkan peringatan organisasi dan perjuangan santri dengan penguatan budaya keilmuan di kalangan generasi muda.

Lomba Cerdas Cermat diharapkan tidak hanya melahirkan para juara, tetapi juga mendorong semakin banyak pelajar untuk gemar membaca, memperluas wawasan, serta tumbuh menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak mulia.

Jaddung, NU Online Pragaan

Sekitar 4.000 jamaah menghadiri Haul Masyayikh Pondok Pesantren Al-Ihsan sekaligus Reuni Alumni yang digelar pada Selasa (6/10/2026). Di tengah padatnya jamaah, Banser Satkoryon Pragaan hadir mengambil bagian dalam pengamanan kegiatan.

Sejumlah personel Banser diterjunkan untuk membantu menjaga keamanan dan ketertiban selama kegiatan berlangsung. Mereka mengawal jalannya acara agar jamaah dapat mengikuti rangkaian haul dengan aman, nyaman, dan khidmat.

Kasatkoryon Banser Pragaan, Subaidi, bersyukur seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar.

“Alhamdulillah, kegiatan berjalan lancar. Kurang lebih 4 ribu jamaah hadir,” ungkap Subaidi.

Bagi Banser, pengamanan kegiatan keagamaan bukan hanya persoalan menjaga ketertiban. Kehadiran di tengah jamaah merupakan bagian dari khidmah kepada pesantren, ulama, dan masyarakat.

Sementara itu, Ketua Panitia Haul, H. Wardi Ahmad, menyampaikan terima kasih kepada Banser Satkoryon Pragaan dan seluruh pihak yang telah ikut membantu kelancaran kegiatan.

“Terima kasih kepada Banser Satkoryon Pragaan dan semua pihak yang telah membantu sehingga kegiatan ini berjalan dengan lancar dan aman,” kata H. Wardi.

Kehadiran Banser dalam haul tersebut menjadi gambaran sederhana tentang khidmah di tengah masyarakat. Ketika ribuan jamaah datang untuk mengenang dan mendoakan para masyayikh, Banser mengambil peran memastikan mereka dapat beribadah dan mengikuti kegiatan dengan tenang.