Miskin dan - Kaya
Sipe461x Sajian-utama
Mayoritas manusia menganggap kemiskinan (materi) sebagai musuh. Coba kita beranya kepada orang lain, “Apakah Anda mau jadi orang miskin?” Atau, Maukah Anda didoakan miskin?” Pasti dia tidak akan mau. Karena, dalam psikologi-sosial, miskin itu identik dengan kerendahan, kehinaan, inferioritas, dan seterusnya.
Berbagai upaya ditempuh untuk menghapus kemiskinan. Lembaga-lembaga sosial didirikan. Kementerian sosial dibentuk. PBB dan pemerintah menyalurkan bantuan kepada orang miskin. Tujuannya hanya satu; menghapus kemiskinan. Hasilnya? Kemiskinan masih tetap ada.
Ya, miskin dan kaya sebenarnya merupakan firah alam (sunnatullah). Tanpa orang miskin, tidak akan ada orang kaya. Sebaliknya, tanpa orang kaya, tidak ada yang membantu si miskin. Maka, kaya dan miskin harus saling berbagi. Si miskin bekerja kepada si kaya. Si kaya membantu si miskin, baik dengan memberikan pekerjaan maupun santunan.
Defenisi Miskin
Lalu, apa defenisi miskin itu? Rasulullah SAW memberi jawaban sbb: "Orang miskin bukanlah mereka yang berkeliling meminta satu-dua suap makanan dan satu-dua butir kurma." Para sahabat bertanya: “Ya, Rasulallah, (kalau begitu) siapa yang dimaksud orang miskin itu?”Beliau menjawab, "Mereka yang hidupnya tidak berkecukupan dan tidak punya kepandaian untuk itu (hidup cukup), lalu dia diberi shadaqah tapi tidak mau meminta-minta." (HR.Muslim)
Ya, orang miskin yang menjaga kehormatannya, itulah yang layak diperhatikan. Si fakir yang menahan lapar sambil memungut barang rosokan, mereka harus dicari dan disantuni.
Doa miskin
Secara logika, jika kemiskinan itu buruk, maka Rasulullah SAW tak akan berdoa minta miskin. Jika orang miskin itu hina, beliau pasti emoh berkumpul dengan mereka. Atau: kalau kemiskinan itu rendah, nggak mungkin orang-orang miskin kelak akan dikumpulkan bersama Rasulullah SAW di akhirat, sebagaimana hadis riwayat Ibn Majah, al-Hakim, dll., bahwa Rasulullah SAW pernah berdoa: Ya, Allah! Hidupkan aku sebagai orang miskin, matikan dalam keadaan miskin, dan kumpulkan aku bersama orang-orang miskin di akhirat kelak.
Apa hebatnya jadi orang miskin?
Kehebatan orang miskin, disebutkan pada alinea hadits berikut:
إنهم يدخلون الجنة قبل الأغنياء بأربعين خريفا
(Orang-orang miskin akan masuk surga 40 tahun lebih dahulu daripada orang-orang kaya). Kemudian dalam hadits lain, Rasulullah SAW menyebutkan 4 kelebihan orang miskin; (1) pahala ibadahnya lebih banyak daripada orang kaya, asalkan ia bersyukur; (2) keinginannya yang tak tercapai dicatat sebagai pahala, asalkan sabar dan qana’ah [menerima apa saja pemberian Allah]; (3) hisabnya lebih ringan karena hartanya sedikit; dan (4) penyesalannya di akhirat lebih sedikit dibanding penyesalan orang kaya. (HR. Turmudzi).
Karena alasan ini pula, Rasulullah SAW sering terlihat makan bersama-sama fakir-miskin dan hamba sahaya. Nabi SAW tak sungkan menjahitkan pakaian janda tua, menyuapi kaum fuqara’, dan mencium tangan kasar orang-orang lemah. Rasul juga bangga digelari abul yatama (bapak anak-anak yatim) dan abul masakin (bapak orang-orang miskin). “Carilah aku di tengah-tengah kaum dhu’afa,” jawab Nabi SAW saat seorang sahabat bertanya tentang keberadaaannya. “Bukankah kalian diberi rezeki karena bantuan orang-orang dhu’afa?”
Nasib si kaya
Dari sini timbul pertanyaan, bagaimana nasib orang-orang kaya di akhirat?
Jawabannya ada pada hadits qudsi riwayat Al-Hasan: "Pada hari kiamat kelak, seorang hamba (miskin) dihadapkan kepada Allah Swt, lalu Allah Swt. bertanya: ’Demi kemuliaan dan kebesaranKu, Aku tidak menyingkirkan dunia darimu karena engkau
hina dalam pandanganKu, tetapi justru karena Aku telah menyediakan kemuliaan dan karuniaKu untukmu. Sekarang, keluarlah ke barisan-barisan itu. Lalu lihatlah siapa di antara mereka yang dulu (di dunia) pernah memberimu makanan atau pakaian dengan ikhlas karena Aku. Peganglah tangannya dan ia adalah hakmu’. Lalu berjalanlah hamba miskin itu di tengah-tengah barisan manusia yang sedang tenggelam dalam peluh. Setelah melihat orang (kaya) yang dulu pernah berbuat baik kepadanya, maka ia pegang tangannya, kemudian ia tuntun masuk surga."
Ya, orang-orang kaya seperti inilah yang kelak akan minum dari gelas berisi kaafura, yaitu mata air surga yang menjadi minuman hamba-hamba Allah yang shaleh. (QS. Al-Insaan:5-6). Orang-orang kaya yang memberikan makanan kesukaannya kepada orang miskin, anak yatim, tawanan, orang-orang lemah. Si kaya yang berikrar saat berderma: “Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanya untuk mengharap ridla Allah, kami tidak meminta balasan darimu dan tidak pula minta (ucapan) terima kasih. (QS. Al-Insaan: 9).
Kesimpulannya, kemiskinan itu baik, selama si miskin bersyukur dan bersabar. Kekayaan juga baik, selama si kaya peduli dan mau berbagi kepada si miskin. WaLlahu a’lam. (Sipe)